Arti Saweran Dalam Musik Dangdut

Kesenian itu merupakan hasil dari rasa dan karsa dan cipta manusia yang memiliki estetika, bahkan kadang-kadang seni bisa mengubah identitas manusia dan membuat perubahan-perubahan yang sangat besar dalam suatu peradaban manusia. Suatu kesenian merupakan bagian dari kebudayaan oleh karena itu manusia yang berkesenian tentu saja manusia yang berbudaya.

Pada saat sekarang ini banyak kesenian-kesenian yang berkembang seiring perubahan waktu. Saat ini terbilang kesenian itu bisa berupa seni musik, seni tari, seni drama dan seni rupa. Karena bilangan seni yang ada itu tentu saja kita tidak melihat seni keseluruhannya hanya membatasi pada seni musik. Seni musik ini pun ada berbagai macam yaitu: seni musik tradisional, seni musik Pop, Rock, R & BN, dan musik dangdut.

Tidak ada yang tahu asal mulanya musik dangdut, ada sebagian kalangan bilang bahwa musik dangdut berasal dari India, tetapi ada sebagian juga bilang bahwa musik dangdut itu musik asli Indonesia yaitu berasal dari musik Melayu Deli. Dalam musik dangdut itu ada suatu budaya yang sangat identik dengan dangdut yaitu “saweran”.

Saweran berasal dari bahasa Sunda
Saweran berasal dari bahasa Sunda yaitu “sawer” yang artinya melempar uang biasanya dilakukan pada saat upacara kebesaran tradisional seperti, sunatan, kawinan dan sebagainya. Di dalam musik dangdut dari pendengar musik dangdut atau pengunjung dari pergelaran dangdut itu. Disini dapat dilihat mengapa saweran dalam musik dangdut cukup menarik? Karena kita tahu bahwa untuk jenis musik lain tidak ada istilah saweran apalagi uang tip yang kadang bisa melebihi bayaran dari biduanita itu sendiri dan Indonesia banyak group-group dangdut yang selalu mengandalkan saweran dalam setiap pertunjukan panggung grup-grup tersebut.

Kita ketahui bahwa grup-grup musik khususnya musik dangdut itu identik dengan saweran karena mereka harus menjalani suatu kesinambungan untuk kelangsungan hidup para anggota grup itu sendiri. Sebenarnya kondisi saweran itu yang menyebabkan seniman musik dangdut itu merupakan musiknya orang pinggiran atau suatu seni musik yang indah dan lebih terbuka lagi bagi masyarakat kalangan manapun.

Saweran merupakan pelanggaran dari estetika kesenian
Sebenarnya saweran itu sudah merupakan suatu pelanggaran dari estetika kesenian, karena dengan saweran di dalam musik dangdut dapat terjadi perubahan dari pure art musik dangdut sendiri, dengan mengganti lirik lagu dangdut dengan lirik yang dibuat sendiri oleh biduantita dangdut itu dan biasanya lagu dangdut itu sudah jauh dari aslinya kalau sudah menghadapi para penyawer yang notabenenya ingin ‘kesohor’ atau populer. Ada pepatah mengatakan biar tekor asal kesohor. Mungkin ini banyak yang menjadi alasan para penyawer di panggung-panggung dangdut hiburan kita. Ada yang beralasan rela menghamburkan uang untuk sekedar menyawer bukan hanya ingin kesohor, melainkan mencari kepuasan batin semata. Memang sungguh fenomenal “saweran” dalam musik dangdut kita.

Tapi disatu pihak saweran tersebut sangat berarti bagi kelangsungan hidup grup-grup musik dangdut. Karena grup-grup musik dangdut papan bawah yang bayarannya per grup masih jauh di bawah standar tentu memerlukan tambahan karena itu saweran disini sangatlah diperlukan walaupun saweran itu merusak dari keindahan suatu kesenian musik itu.

Untuk grup-grup musik dangdut papan atas dan penyanyi dangdut papan atas, saweran memang tidak diperlukan untuk mereka karena biasanya bayaran per grup mereka sudah melebihi standar hidup mereka. Karena itulah saweran diperlukan oleh pemusik dan penyanyi sebagai tambahan penghasilan mereka.
Seorang biduantita biasanya lebih banyak mendapat hasil dari saweran itu daripada bayarannya di panggung musik dangdut, karena itu menurut beberapa biduanita saweran itu merupakan seni dari musik dangdut itu sendiri. Tanpa saweran, itu bukan musik dangdut. Sebenarnya kalau kita membanding dari sudut etika, benar atau salah saweran itu sudah melanggar suatu etika kesenian karena kesenian itu harus benar-benar murni tanpa ada tambahan atau embel-embel apapun, tapi seperti yang sudah diuraikan di atas bahwa saweran itu perlu untuk kelangsungan hidup para pemusik dan penyanyi dangdut, karena itu disini etika dikesampingkan walaupun sebenarnya saweran itu melanggar etika.

Kalau dilihat dari sudut estetika sebenarnya saweran itu sudah merubah suatu keindahan seni itu. Suatu keindahan itu sudah keluar dari jalur yang ditetapkan oleh perasaan bahwa seni bisa dilihat keindahannya kalau seni itu suatu seni yang murni/pure art.

Dapat disimpulkan bahwa suatu estetika seni bersifat relatif tergantung dari sudut mana si penikmat seni melihatnya. Jadi pelanggaran suatu etika dalam kesenian khusunya estetika dari seni musik dangdut itu ada tapi pelanggaran itu juga merupakan suatu keindahan dan seni musik dangdut itu sendiri. Bahwa saweran itu tidak melanggar suatu estetika seni melainkan saweran itu menambah keindahan dari seni itu sendiri, apalagi seni musik dangdut yang merupakan seni musik asli Indonesia. Untuk itu kita harus selalu menjaga keindahan budaya khususnya seni musik untuk memperkaya rasa keindahan di dalam hati kita.

Daftar Seleb Korea Paling Populer di Yahoo! [Foto]

Berdasarkan Yahoo! Indonesia Search, ada 15 besar selebritas Korea yang paling banyak dicari di pada bulan Juli 2012. Adakah idolamu dalam daftar ini? Berikut ini daftarnya, dimulai dari urutan terbawah.

#13 Nichkhun 2PM


#12 Kim Jae joong JYJ


#11 Jang Geun Suk


#10 Seohyun SNSD


#9 Suzy Miss A


#8 Hwayoung


#7 Siwon Super Junior


#6 BoA


#5 Donghae Super Junior


#4 Lee Min Ho


#3 Lee Hyori


#2 Kim Hyun Joong


#1 Yoona SNSD

Beberapa Seleb Wanita Indonesia yang Bertato [Foto]

Bukan artis internasional saja yang gemar merajah tubuh. Di Indonesia, tato juga sudah mulai lumrah bagi banyakwanita, termasuk seleb-seleb berikut ini.

Chantal Della Concetta

Mantan pembaca berita ini memiliki lima buah tato di tubuhnya, bertuliskan nama-nama orang yang dicintainya.

Tamara Geraldine

Ada 15 tato di tubuh Tamara Geraldine, salah satunya yang bergambar wajah anaknya, Caskaya, di punggungnya.

Fahrani Empel

Tubuh model dan aktris Fahrani dipenuhi tato dari atas hingga bawah, bahkan di dalam mulut di balik bibir bagian bawah. Jumlah tato di tubuh Fahrani mencapai 35 buah.

Olla Ramlan

Ada 12 tato di tubuh Olla Ramlan, namun satu persatu mulai ia hapus sesuai permintaan kekasihnya, Aufar.

Poppy Bunga

Meski ditentang ibunda, Poppy Bunga tetap membuat tato di pinggul dan punggungnya.

Julia Perez

Selain tato kalajengking hitam di perut bagian kiri bawah, Jupe juga memiliki tato tulisan di tengkuknya.

Sheila Marcia

Sheila Marcia memang dari dulu menggemari tato. Salah satu tato terbarunya adalah tato nama anaknya, "Leticia", di leher, dan tato rosario di pergelangan tangan kanannya yang dibuat bersamaan dengan suaminya, Kiki Mirano.

Melanie Subono

Tak heran jika Melanie memiliki beberapa tato, karena sang suami I Gusti Ngurah Agus Wijaya adalah seniman tato ternama.

Nikita Mirzani

"Seleb" yang sering masuk tayangan infotainment dengan berita-berita sensasional ini dikenal orang dengan tato bertuliskan "Nikita" tepat di atas dadanya.

Poppy Sovia

Wajah imut Poppy Sovia seakan berbanding terbalik dengan tubuhnya yang dipenuhi tato. "Kata mama boleh ditato asal nggak macem-macem dengan kehidupan yang lain," ujar Poppy dalam wawancaranya dengan Kapanlagi.com.

7 Artis Indonesia Yang Operasi Plastik

Krisdayanti

Krisdayanti mengaku pernah menjalani operasi plastik dalam buku biografi yang ditulis Alberthiene Endah yang berjudul 'Catatan Hati Krisdayanti: My Life, My Secret' tahun 2009 lalu. Sang Diva ini mengaku operasi payudara di tahun 2004, tummy tuck di Singapura pada tahun 2008 dan suntik botox.

Titi DJ

Tidak hanya Krisdayanti, Diva satu ini juga melakukan operasi bedah plastik. Pada tahun 2005, Titi sempat melakukan tummy tuck (operasi pengecilan perut) dan liposuction (penyedotan lemak).

Rebecca Tumewu
Lima tahun yang lalu, Becky (panggilan Rebecca Tumewu) menjalani operasi pemasangan implan payudara di sebuah rumah sakit di Bogor karena bentuk payudaranya tidak simetris.

Ruth Sahanaya

Uthe (panggilan Ruth Sahanaya) melakukan pembesaran payudara pada 23 Desember 2005. Ukuran bra Uthe naik dua tingkat.

Tamara Geraldine
Dirinya mengaku lakukan sedot lemak pada area pinggul dan paha atas. Karena ada bagian tubuh yang tidak bisa mengecil walau sudah berolahraga hinga mati-matian. Ia melakukan operasi disaat yang sama dengan sahabatnya, Titi DJ.

Melly Goeslaw

Melly mengaku pernah menyedot lemak di perut, paha, juga dagunya pada Oktober 2007. Kala itu beratnya pun langsung susut 10 kilogram. Melly mengaku tak suka diet dan olahraga, oleh karena itu sedot lemak pun dipilihnya.

Ivan Gunawan

Ivan Guawan berhasil mengeluarkan lemak sebanyak 10 liter dari dalam tubuhnya. Dirinya melakukan penyedotan lemak pada Juli 2011. [sumber]

Beredar, Foto Luna Maya dan Syahrini Asyik Merokok


Sejumlah foto Luna Maya dan Syahrini tengah asyik merokok kini beredar di dunia maya. Dalam foto itu Luna dan Syahrini terlihat akrab.

Luna dan Syahrini terlihat tengah asyik nongkrong di sebuah lapangan. Tidak diketahui di mana persisnya tempat dan tanggal foto itu dibuat.

Namun dari foto, sepertinya Luna dan Syahrini tengah menghadiri sebuah acara musik.

Ada sekitar delapan foto Luna dan Syahrini tengah asyik nongkrong bareng. Selain Luna dan Syahrini, di foto tersebut juga tampak Dea Ananda dan adik Syahrini, Syahrani.

Di foto tersebut, Syahrini terlihat mengenakan tank top hitam dengan dalaman putih. Sedangkan Luna terlihat mengenakan gaun biru.

Keempat wanita itu terlihat tengah nongkrong bareng. Mereka tertawa di hadapan kamera, sambil menggenggam sebatang rokok di jarinya. Namun di jari Luna tak terlihat ada rokok, meskipun dari gaya jarinya, ia seperti tengah menyelipkan sebatang rokok. [mor]

[sumber: inilah.com]

Foto Dicatut, Manohara Dirugikan Ustad Guntur Bumi

Pesinetron Manohara mengaku kaget ketika foto wajahnya terpampang di padepokan tempat pengobatan alternatif milik Ustad Guntur Bumi (UGB). Mano merasa dirugikan atas kejadian tersebut.

"Iya sih (dirugikan). Apalagi aku orangnya concern sama kesehatan. Jadi itu sebuah pengobatan alternatif dan aku nggak tahu pengobatannya seperti apa. Aku nggak mau orang ke sana karena menganggap aku jadi ikonnya," kata Manohara saat menggelar acara Buka Bersama di Hotel Santika, Slipi, Jakarta Barat, Jumat (17/8).

Meski sudah merasa dirugikan atas tindakan tersebut, Mano belum ingin mengambil langkah hukum. Sejauh ini ia ingin menyelesaikan masalah itu secara kekeluargaan, usai lebaran.

"Nanti kita bicarakan gimana sebaiknya. Tapi terus terus terang saja itu tindakan sangat merugikan. Kita tidak tahu menahu," tegasnya.

Sejauh ini, Mano pun mengaku belum bertemu dengan sang Ustad Cilik itu terkait pencatutan foto yang merugikannya secara materi.

"Setelah Lebaran kita akan membicarakan, kita akan follow up," pungkasnya.

[sumber: tempo.co]

Sejarah Perkembangan Film Independen


Film Independen atau “indie” sebagai gerakan penyeimbang industri sinema mainstream sejak beberapa dekade silam hingga kini masih tumbuh berkembang demikian pesat. Sineas-sineas besar serta film-film berpengaruh tidak sedikit yang berasal dari gerakan sinema independen ini. Istilah “independen” sendiri hingga kini masih kabur dan sering memicu beragam interpretasi baik individual maupun kelompok. Film-film independen sering kali lekat dengan sinema “non-mainstream”, bujet produksi minim, tema kontroversial, cara bertutur unik, “festival-oriented”, dan lain sebagainya.

Batasan dan Definisi Film Independen
Secara universal istilah independen bisa dipecah menjadi dua yakni, definisi teknis dan non teknis. Definisi teknis terkait dengan enam studio raksasa Hollywood yang menguasai industri sinema dunia saat ini, yakni 20th Century Fox, Walt Disney, Columbia, Universal, Paramount, dan Warner Bros. Film independen dapat didefinisikan sebagai semua film yang dibiayai kurang dari 50% oleh salah satu dari enam studio raksasa di atas. Untuk ikut bersaing di berbagai festival film internasional, enam studio tersebut juga memiliki beberapa studio kecil, sebut saja seperti Fox Searchlight, Miramax Films, Sony Pictures Classic, Warner Independent, Paramount Classics, dan lainnya. Film-film produksi studio-studio kecil ini masih dibiayai setidaknya 50% oleh studio-studio raksasa di atas.

Masih menjadi pertanyaan apakah film-film produksi studio-studio tersebut dapat didefinisikan sebagai film independen? Hal ini sangat bergantung pada interpretasi individual.Sementara definisi “non teknis” film independen lebih luas dan semakin kabur batasannya. Boleh dibilang semua aspek di luar sistem (produksi) Hollywood bisa berkaitan dengan hal ini. Film-film mainstream Hollywood umumnya menggunakan formula (produksi) yang sama dengan tujuan meraih profit finansial sebesar-besarnya. Mereka tidak berani berjudi dengan segala sesuatu yang bisa menimbulkan resiko kerugian. Sementara sineas independen menggunakan cara bertutur yang unik, kreatif, orisinil, tema yang kontroversial, ekstrem, serta vulgar dalam karya-karya mereka. Mereka juga berani bereksperimen dengan teknik-teknik baru dan radikal dengan bujet produksi yang umumnya jauh di bawah standar film-film mainstream.

Film-film independen lebih menekankan pada visi artistik sang sineas tanpa intervensi dari pihak lain, seperti studio atau produser. Tidak seperti sineas mainstream yang cenderung bermain “aman”, sineas independen secara sadar berani mengambil resiko baik moral maupun finansial terhadap karya-karya mereka.Lalu bagaimana definisi film independen di luar wilayah Amerika. Walau tidak sebesar dan sekuat industri film di Amerika namun tiap negara umumnya memiliki industri film “mainstream” yang mendominasi. Studio-studio lokal tersebut dalam beberapa aspek memiliki kesamaan sistem dan karakter dengan studio-studio besar Hollywood. Film-film tersebut sering diistilahkan dengan foreign film ketimbang film independen. Sementara film independen bisa dikatakan adalah semua film di luar film-film mainstream di wilayah atau negara bersangkutan. Definisi independen bisa berbeda-beda di tiap wilayah atau negara. Seperti di negara kita misalnya, film independen bisa kita definisikan sebagai film-film produksi domestik yang tidak beredar di jaringan bioskop utama.

Studio Independen di Era Klasik

Mungkin banyak dari kita yang tidak tahu jika perang antara studio besar versus studio kecil (independen) telah ada jauh sejak era silam di Amerika. Pada tahun 1908, dimotori oleh Thomas Alfa Edison dibentuk The Motion Picture Patents Company (MPPC) yang merupakan gabungan dari studio-studio besar kala itu. MPPC berfungsi untuk mengontrol seluruh jaringan distribusi serta produksi dalam satu kendali. Studio-studio kecil harus mendapatkan ijin untuk produksi dan distribusi sebuah film. Walau akhirnya MPPC dibubarkan beberapa tahun kemudian namun embrio sistem studio mulai tampak terutama ketika industri sinema mulai berpindah ke Hollywood.

Beberapa studio independen yang muncul pada era ini kelak menjadi studio raksasa yang hingga kini masih eksis. United Artist tercatat sebagai studio independen pertama di Amerika, dibentuk pada tahun 1919 yang dimotori oleh sineas serta bintang-bintang besar yakni, D.W. Griffith, Chaplin, Douglas Fairbanks, serta Mary Pickford Beberapa studio kecil juga menggabungkan diri hingga muncullah studio-studio besar seperti MGM, 20th Century Fox, dan lain sebagainya. Selama beberapa dekade ke depan studio-studio independen kalah bersaing dengan studio-studio raksasa Hollywood yang sekaligus mendominasi industri sinema dunia.

Sejak era 30-an hingga 50-an industri film Hollywood dengan sistem studionya mencapai masa keemasaannya. Sistem studio yang dimotori oleh lima studio raksasa (MGM, Warner Bros., Paramount, RKO, dan 20th Century Fox) menguasai pasar dengan praktek monopoli yang mengontrol produksi, distribusi, serta ekshibisi. Pada tahun 1941, beberapa sineas dan produser berpengaruh seperti Chaplin, Walt Disney, Orson Welles, David O. Selznick, dan lainnya membentuk Society of Independent Motion Picture Producers (SIMPP) yang bertujuan untuk memperjuangkan hak-hak para produser independen yang terpinggirkan oleh sistem studio. Tahun 1942, SIMPP secara resmi mengajukan tuntutan pada studio Hollywood (Paramount) dengan dalih monopoli.

Enam tahun berselang, tuntutan SIMPP membuahkan hasil, pengadilan tertinggi Amerika mengakhiri praktek monopoli dengan mengharuskan studio-studio tersebut menjual teater-teater (ekshibisi) mereka. Hal ini praktis mengakibatkan berakhirnya era kejayaan sistem studio. Usaha SIMPP yang berujung pada hancurnya sitem studio memberikan kesempatan bagi para produser dan sineas independen untuk berkreasi. Teknologi kamera yang semakin canggih, murah, dan ringan juga semakin mendorong berkembangnya film-film independen di Amerika selepas perang dunia kedua. Pada periode inilah muncul sineas-sineas independen berpengaruh seperti Maya Deren, Kenneth Anger, Raymond Abrashkin yang mampu bersaing dengan film-film independen dari benua Eropa.

Runtuhnya tembok sensor pada dekade mendatang juga semakin mendorong perkembangan film independen ke level yang lebih tinggi.Sementara di wilayah Eropa film-film independen telah berkembang luas selepas perang dunia pertama. Film-film independen yang sangat berpengaruh muncul dari sineas-sineas yang menganut aliran seni abstrak, seperti dada dan surealis. Sineas surealis dan dada bekerja tertutup dan mempertontonkan karya-karya mereka di ruang lingkup mereka sendiri. Film-film mereka umumnya abstrak, anti-naratif, menentang kausalitas, serta kerap menggunakan teknik-teknik radikal.

Selama perang dunia kedua berkecamuk praktis industri film di Eropa mengalami mati suri namun selepas perang, industri film di Eropa mulai bangkit dan film-film independen pun mulai kembali menggeliat. Sebuah gerakan sinema di Perancis di akhir 50-an, yakni nouvelle vague (French New Wave) menjadi motor penggerak gerakan independen di Eropa melalui film-film seperti The 400th Blow karya François Truffaut serta Breathless karya Jean-Luc Godard. Para sineas muda ini membawa kamera mereka ke jalanan, kafe serta tempat publik lainnya dengan peralatan seadanya serta kru yang minim. Karya-karya mereka membuka pikiran para sineas muda di Eropa dan Amerika untuk mengembangkan sinema ke level yang lebih jauh lagi. Gerakan nouvelle vague tak lama diikuti oleh gerakan new wave lainnya di seluruh Eropa bahkan hingga Asia.
Era Baru Era Independen

Sejak era 50-an sinema independen mulai mendapat perhatian publik luas dan sering kali meraih sukses komersil maupun kritik. Little Fugitive (1953) arahan Raymond Abrashkin tercatat sebagai film independen pertama yang mampu dinominasikan sebagai film terbaik dalam ajang Academy Awards. Sukses film ini memicu para produser independen lainnya untuk memproduksi film-film “murah” dengan sasaran kawula muda. Salah satunya yang paling berpengaruh di era 60-an adalah Roger Corman yang kerap dijuluki “King of B-Movies”. Film-film horor dan fiksi ilmiah produksi Corman menawarkan unsur-unsur seks, kekerasan, obat-obatan, serta nuditas, segala sesuatu yang tidak pernah ditawarkan oleh studio-studio besar. Sineas independen lainnya, George Romero melalui film horor fenomenal, Night of The Living Dead (1968) tercatat sebagai film independen terlaris pada masanya.

Momen baru era independen tercatat melalui film Bonnie & Clyde (1967) ketika Warner Bros menawarkan 40% dari profit filmnya untuk produser Warren Beatty yang juga bermain di filmnya. Momen ini diistilahkan media dengan “New Hollywood” yang memberikan jalan bagi para sineas serta produser independen untuk bisa mendapatkan kontrol penuh terhadap produksi film mereka. Tercatat Easy Rider (1968) arahan Dennis Hopper merupakan film independen pertama yang diproduksi pada era baru ini. Sineas-sineas berpengaruh seperti Martin Scorcese, Francis Ford Coppola, serta George Lucas tercatat mengawali karir mereka sebagai sineas independen. Talenta-talenta muda inilah yang kelak akan mengubah industri sinema di Amerika bahkan di dunia melalui film-film mereka yang luar biasa sukses. Namun nama-nama tersebut kini telah identik dengan para pelaku sinema mainstream.

Sundance Film Festival dan Perkembangan Hingga Kini

Momen penting bagi perkembangan film independen adalah ketika Utah (U.S.) Film Festival diselenggarakan pertama kali tahun 1978. Festival film independen yang dilangsungkan di Salt Lake City ini diprakarsai oleh Sterling Van Wagenen dan John Earle. Festival ini memberikan kesempatan luas bagi para sineas independen untuk mempertontonkan karyanya sekaligus bersaing dalam sebuah kompetisi. Juga bertempat di Utah, aktor-sineas ternama, Robert Redford pada tahun 1981 membentuk organisasi non-profit yakni, Sundance Institute. Tujuan institusi ini adalah untuk memberikan bimbingan bagi para pembuat film independen dari seluruh dunia untuk bisa mengembangkan karya-karya mereka. Di tahun 1985 ketika Utah Film Festival mengalami problem finansial, Redford bersama institusinya mengambil alih manajemen dan mengganti nama menjadi Sundance Film Festival. Hingga kini Sundance Film Festival menjadi salah satu barometer bagi perkembangan film-film independen di dunia khususnya di Amerika.

Di era 80-an beberapa sineas memproduksi film-film independen berpengaruh, seperti David Lynch melalui Eraser Head serta Blue Velvet, Spike Lee melalui She’s Gotta have It, Joel Coen melalui Blood Simple, Sam Raimi melalui Evil Dead, juga beberapa nama lain seperti Jim Jarmusch, Gus van Sant, John Sayles, serta Michael Moore. Di era 90-an, Sundance Film Festival mengangkat popularitas sineas-sineas muda berbakat seperti Kevin Smith, Robert Rodriguez, Quentin Tarantino, Paul Thomas Anderson, serta Steven Soderbergh. Smith dikenal melalui film-filmnya seperti Mallrats serta Clerks, Rodriguez melalui El Mariachi, Anderson melalui Magnolia, lalu Soderberg melalui Sex, Lies, and Videotape. Sementara Tarantino melalui film-film seperti Reservoir Dogs, Pulp Fiction, dan Jacky Brown menjadi sineas independen paling berpengaruh pada dekade ini. Pulp Fiction melalui cara bertuturnya yang unik tercatat sebagai film independen terlaris sepanjang masa. Sementara sukses sensasional dicapai film horor, The Blair Witch Project di akhir milenium lalu. Film arahan sineas muda Daniel Myrick dan Eduardo Sánchez ini diproduksi dengan biaya hanya 35 ribu dollar. Setelah diputar dan sukses di Sundance Film Festival, Artisan membeli hak rilis filmnya senilai 1.1 juta dollar. Pada rilisnya film ini total meraih pendapatan kotor sebesar 248 juta dollar di seluruh dunia!

Sementara pada era milenium baru tercatat beberapa film independen berkualitas diproduksi, seperti Memento (2000) arahan Christopher Nolan, Requiem for a Dream (2000) arahan Darren Aronofsky, Ghost World (2001) arahan Terry Zwigoff, Lost in Translation (2003) arahan Sofia Coppola, serta Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004) arahan Michel Gondry. Sementara itu dalam ajang Academy Awards untuk kategori film terbaik selama belasan tahun terakhir nyaris didominasi oleh film-film produksi studio independen. Saat ini teknologi kamera digital yang relatif terjangkau, peralatan serta program editing yang relatif murah dan mudah, semakin memudahkan orang untuk memproduksi film. Siapa pun bisa menjadi sineas independen. Namun harus diingat semangat independen bukan hanya sekedar berkarya, jiwa independen sejatinya adalah sebuah proses kreatif yang orisinal dan inovatif, serta berani mengambil resiko moral maupun materi tanpa campur tangan dari pihak manapun.

5 Selebritis Yang Menyesal Operasi Plastik

Ternyata tidak selamanya melakukan operasi plastik itu bagus untuk kecantikan nyatanya ada beberapa selebritis yang malah menyesal telah melakukan operasi plastik. Nah kamu ingin tahu selebritis siapa saja yang menyesal melakukan operasi palstik simak berikut ini.

1. Heidi Montag

Pada Januari 2010, Heidi Montag tampil sangat berbeda. Sampai-sampai hampir tak ada yang mengenalinya. Ia melakukan 10 jenis bedah plastik seperti liposuction, implan payudara dan bokong, forehead lift dan chin reductiondalam satu hari. “Saya tidak pernah merasa sangat cantik dan seksi sebelumnya,” ujarnya saat itu.

Tapi, perubahan ekstrem yang dilakukannya justru membuatnya seperti orang lain. Belum lagi ketidaknyamanan yang timbul akibat bekas-bekas operasi dan implan payudara berukuran cup G yang sangat tak proporsional.

“Saya lebih senang jika tidak menjadi ‘plastic girl’. Operasi menghancurkan karier dan kehidupan saya. Saya harap bisa lompat ke mesin waktu dan mengembalikan semuanya,” ujarnya.

2. Kourtney Kardashian

Ia sadar ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan saat iseng. Kakak Kim Kardashian ini mengaku dirinya telah melakukan kesalahan besar dengan memperbesar volume payudaranya dari ukuran cup B menjadi cup C saat usia 22 tahun. “Saya tiba-tiba mendapatkan ide tersebut, dan terjadilah. Sangat bodoh,” ujarnya.

Saat usianya menapai 30 tahun, implan payudaranya menyebabkan ketidaknyamanan yang serius, terutama ketika berbaring. “Implan ini terasa seperti bukan bagian tubuh saya. Jika saya tahu,
saya mungkin tidak akan melakukannya.”

3. Jessica Simpson

Penyanyi yang baru saja melahirkan ini menyesal pernah melakukan injeksi bibir. Ia menyesal karena hasilnya justru lebih buruk dari bibir aslinya. “Bibir saya terlihat palsu. Tapi untungnya, dalam empat bulan, bibir saya bisa kembali seperti semula,” ujar Jessica Simpson kepada Glamour pada 2006.

4. Joan Rivers

Menjelang ulang tahun yang ke-79 tahun, Joan Rivers mengakui pernah melakukan operasi plastik sebanyak 739 kali. Menghabiskan US$80 ribu atau sekitar Rp758 juta. “Saya melakukannya setiap akhir pekan dan saya melakukan hal yang baru karena saya mendapatkan potongan harga,” ujarnya.

Tapi, komedian ini tidak menyarankan orang lain untuk mengikuti kebiasaan buruknya. Pada 2009, ia mengatakan menyesal melakukan sedot lemak karena hasilnya tidak sempurna.

5. Pamela Anderson

Pamela Anderson dikenal dengan sosoknya yang menyerupai boneka barbie dengan bokong dan payudara yang penuh berisi. Pada tahun 1999, lima tahun setelah Baywatch, Anderson melakukan operasi pengangkatan implan yang membuat payudaranya terlihat palsu. “Saya hanya ingin tubuh saya kembali ke kondisi semula,” ujarnya dikutip iVillage.

Hanya, penyesalan itu tak berlangsung lama. Pada 2004, Anderson kembali melakukan breast augmentation.Bahkan, dengan ukuran yang lebih besar dari yang pernah ia lakukan. “Saya tidak menentang operasi plastik. Yang telah saya lakukan akan tinggal dengan saya,” ujarnya di Majalah Playboy.

Kisah Seram Di Balik 5 Dongeng Dunia Terpopuler

Anda tentu sudah sering mendengar tentang kisah hidup Cinderella yang tadinya dikenal dengan Upik Abu yang penuh derita, kemudian berubah menjadi Putri Kerajaan yang cantik jelita. Anda pun sudah sering mendengar tentang kisah Hansel dan Gretel yang ditinggal oleh orang tuanya di dalam hutan.

Cerita-cerita menjelang tidur itu memang sangat menghibur dan membawa kenangan masa kecil yang begitu indah. Namun tahukah Anda bahwa dongeng-dongeng tersebut pada awalnya bukan begitu ceritanya. Dalam sebuah buku berjudul The Most Creepy Fairy Tales, dongeng-dongeng itu ternyata awalnya dibuat dengan cerita yang sangat mengerikan dan menakutkan. Beruntunglah kita tidak pernah mendengar kisah sebenarnya dari dongeng-dongeng itu, karena telah dimodifikasi sedemikian rupa (terima kasih untuk HC Anderson, Brother Grimms, dan Walt Disney yang telah mengubah kisah horor itu menjadi dongeng anak-anak yang menyentuh hati). Jika tidak, mungkin masa kecil kita tidak seindah yang kita ingat. Berikut ini adalah kisah sebenarnya dari dongeng-dongeng populer tersebut.

1. SNOW WHITE & SEVEN DWARFS

Ucapan terima kasih perlu kita alamatkan pada Walt Disney yang telah mengubah kisah Putri Salju dan 7 Kurcaci ini menjadi sebuah cerita yang legendaris seperti yang kita ketahui saat ini. Dalam versi asli epik ini, dikisahkan bahwa Ratu meminta bawahannya untuk menghabisi Putri Salju. Dan sebagai bukti kalau Putri Salju telah terbunuh, sang bawahan harus membawa jantung Putri Salju. Saat melepaskan Putri Salju, Bawahan Ratu membunuh rusa dan membawa jantung rusa itu ke hadapan Ratu, serta mengakui jantung itu milik Putri Salju. Sang Ratu lalu memakan jantung Putri Salju dan berharap kecantikan Putri Salju berpindah padanya.

Di akhir cerita, dikisahkan bahwa Putri Salju yang tewas setelah makan apel beracun, hidup lagi berkat ciuman seorang Pangeran. Setelah Putri Salju diboyong ke istana, sang Ratu dihukum. Namun berbeda dengan versi yang anda ketahui, hukuman untuk Sang Ratu sangatlah kejam. Kakinya dipasung dengan sepatu besi dan si Ratu dipaksa menari sampai mati di hadapan Putri Salju.

2. CINDERELLA :

Kisah lain yang cukup populer di masa kanak-kanak kita adalah Cinderella alias Si Upik Abu. Dalam versi aslinya, saat Pangeran mencari pemilik sepatu kaca, Ibu Tiri Upik Abu berusaha sangat keras agar anak-anaknya terpilih sebagai pemilik sepatu. Putri yang kakinya kebesaran, jari-jarinya dipotong agar muat. Sementara Putri yang kakinya kekecilan, kakinya digilas dengan roda gerobak kuda yang sangat berat (dari sinilah sebenarnya muncul istilah "Pain for Beauty"(Biar Sakit Asal Cantik)). Pada akhirnya, cara itu tidak berhasil karena Sepatu Kaca itu tetaplah tidak muat untuk kedua kakak-beradik itu.

Ketika Sang Pangeran menemukan bahwa pemilik sepatunya adalah Cinderella, maka murkalah dia, dan segera memerintahkan burung elang peliharaannya untuk mematuk dan memakan mata Ibu Tiri Cinderella, kemudian mengusir Ibu Tiri dan adik-adik tirinya dari kota. Sang Ibu Tiri dan adik tiri Cinderella pada akhirnya menjadi pengemis yang tinggal di luar kota.

3. HANSEL & GRETEL

Kisah rekaan Brother Grimms ini awalnya dibuat untuk orang dewasa. Namun karena tidak populer, akhirnya diubah versinya dan disesuaikan untuk anak-anak. Dalam versi dewasanya, Hansel dan Gretel diceritakan sering disiksa oleh orang tuanya yang psycho. Sang ayah sering menyambuk mereka dan sang ibu suka melukai kedua anak itu dengan menyayat kulit mereka dan tertawa-tawa saat melihat darah mengalir keluar dari kulit yang tersayat itu.

Saat kedua anak itu kabur dari rumah, keduanya bertemu rumah yang terbuat dari permen / coklat, yang tidak lain adalah milik Tukang Sihir. Yang mengejutkan, Sang Tukang Sihir adalah Kanibal yang pada akhirnya membunuh dan memakan mereka. Hansel & Gretel adalah kisah pertama yang mengangkat tema kanibalisme.

4. LITTLE RED RIDING HOOD

Kisah klasik ini sebenarnya diangkat dari kisah nyata tentang penyerangan seekor srigala pada seorang anak perempuan berkerudung merah. Kejadian ini terjadi pada abad 18 di daerah Eropa. Waktu itu dikisahkan seorang anak disuruh orang tuanya mengunjungi nenek mereka yang sakit dan tinggal di hutan. Awalnya, anak itu disuruh pergi subuh-subuh. Namun entah mengapa, sang anak memutuskan pergi tengah malam. Akibatnya, dia dikejar oleh srigala. Memang si anak lolos dari kejaran srigala dan berhasil tiba di rumah neneknya dengan selamat. Namun yang tidak diduga olehnya, ternyata ada seekor srigala yang telah memakan sang nenek dan bersembunyi di dalam rumah. Dan ketika si anak itu tiba di rumah, sang serigala segera menghabisi anak malang itu.

Kisah asli Little Red Riding Hood nyaris difilmkan secara utuh dalam film Hoodwinkled. Namun berhubung film itu dikhususkan untuk anak-anak, akhirnya versinya diubah dengan mengikuti alur sesuai dengan cerita yang kita ketahui saat ini. Jika tidak.... mungkin Anda akan termuntah-muntah saat menontonnya.

5. THE LITTLE MERMAID :

"Under the sea.... under the sea..." Yeah... Anda tentu ingat lagu yang dinyanyikan oleh Sebastian - si udang berisik dari dasar laut. Dengan aksen Jamaikanya dia menghibur kita dengan lagu yang menyenangkan itu. Kisah si Putri Duyung ini pun begitu menyentuh dan disuka oleh banyak orang hingga hari ini. Namun tahukah Anda bahwa kisah si Putri Duyung itu tidaklah seindah yang Anda tahu?

Dalam versi aslinya, Ariel si Putri Duyung - selama menjadi manusia - dibekali dengan pisau yang terselip rapi di balik rambutnya yang panjang dan tebal. Tujuannya sederhana : Jika ada orang yang mencurigai keberadaannya sebagai Putri Duyung, maka Ariel harus membunuh orang itu. Dia harus melakukan hal ini untuk melindungi jati dirinya, serta keselamatan kerajaan Neptunus dan spesies Mermaid di laut agar tidak menjadi buruan manusia.

Dalam perkembangan kisahnya, kisah cinta Ariel berakhir tragis. Cintanya bertepuk sebelah tangan, dan sang pangeran meninggalkannya untuk menikah dengan gadis lain. Hal ini membuat Ariel patah hati dan akhirnya memilih membunuh dirinya sendiri dengan pisau yang dibawanya.

Dari sinilah muncul istilah "Mermaid Tears" (Air mata Putri Duyung).
Hewan Sirenia - atau dikenal juga dengan sebutan Sapi Laut / Sea Cows - disebut pula dengan nama Putri Duyung karena memiliki morfologi tubuh yang mirip dengan gambaran Putri Duyung. Hewan laut ini sering terlihat mengeluarkan air mata. Dan kini Anda paham kan mengapa dia menangis?

[sumber]

Kehidupan Malam Kota Erotis Pattaya Thailand

Pattaya Kota Erotis Mungkin tepat rasanya jika disandangkan terhadap kota yang letaknya 115 kilometer dari Bangkok, Ibukota Thailand ini, dia adalah Pattaya, kota yang menyajikan keindahan alam dan tentunya kehidupan malam. Hampir setiap malam kota ini penuh dengan gemerlap lampu disko serta gemulai gadis Thailand yang meliuk-liuk di tiang-tiang bar.

Sapaan serta senyuman nakal seakan menjadi hal yang lumrah untuk menarik para wisatawan asing yang ingin mereguk kehangatan malam. Saat diberikan kesempatan berada di Pattaya, Thailand. Tampak sekali dari hanya beberapa meter saja, para gadis yang berwajah Asia dan oriental berjajar di depan bar. Mereka tampak asyik bercengkerama dengan sesama rekan mereka, kadang memainkan HP sambil menunggu tamu yang datang. Di beberapa bar juga tampak para gadis yang rata-rata berambut panjang menari-nari dan berputar di tiang bar.

Tampak di antara penari itu, turis-turis bule yang semuanya laki-laki tampak asyik mengobrol dengan ditemani para gadis dan tentunya minuman beralkohol. Sesekali mereka berpelukan sembari berciuman di tengah keramaian malam. Begitu juga para gadis yang tampak cuek meliuk-liuk di tiang bar walaupun gerakan mereka akan menjadi perhatian orang-orang menyusuri jalan di Pattaya. Memang para gadis ini masih berpakaian tergolong sopan walaupun hanya menutupi sekedarnya.

Namun aksi nude atau bugil para penari ini akan bisa dilihat di dalam bar yang memulai pertunjukan pada jam-jam tertentu. Sangat mudah untuk mencarinya, karena di Pattaya dijual bebas majalah yang mempertontonkan tubuh mulus para penarinya sekaligus memberi informasi mengenai jadwal para penari itu show dan tempatnya. Majalah ini biasanya banyak dijual di hotel-hotel yang berada di Pattaya. Tak terhitung banyaknya kafe-kafe atau bar seperti ini di Pattaya, begitu pula para wanita penghiburnya.

Di sana-sani suara musik disko bergenre house tampak saling bersahutan antara satu bar dengan bar lainnya. Walaupun terdengar aneh bagi telinga karena lagu tersebut berbahasa Thailand yang kurang dimengerti para turis, namun rasanya itu tak menjadi masalah. Mereka pun tetap merayapi kehidupan malam di kota wisata malam ini.

Memang geliat Pattaya baru akan terlihat pada malam hari, mungkin ini juga yang menjadi daya tarik wisatawan asing. Jadi tidak salah jika ada anggapan All Night Is Saturday Night. Sebab saat weekday pun kawasan ini tetap ramai dengan kehidupan malamnya.

[sumber]
 
Support :Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. HLOWBOS - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger