Misti yang diketahui berusia 46 tahun mengatakan bahwa ia sudah mengalami kecanduan olahraga setelah lulus dari kuliah. Ia seperti pecandu lainnya yang harus berada di dekat pusat kebugaran setiap saat.
"Saya menyadari bahwa kecanduan olahraga adalah sebuah masalah. Pada satu titik saya memiliki 3 keanggotaan gym, 2 pelatih dan saya merasa sangat terobsesi," ujar Misti, seperti dikutip dari Foxnews, Kamis (18/10/2012).
Kemana pun ia pergi, hal pertama yang selalu ia tanyakan adalah seberapa jauh pusat kebugaran dari hotel yang ia tempati. Jika ia melewatkan latihan pagi maka ia akan meninggalkan pekerjaan untuk olahraga dan lebih memilih berolahraga ketimbang menghabiskan waktu bersama pacar atau keluarga.
Pada awalnya, orang-orang di sekitar Misti berpikir ia hanya mencoba untuk sehat. Tapi lambat laun mereka mulai menyadari bahwa yang dilakukan oleh Misti sudah bermasalah, keluarga dan teman pun mencoba untuk berbicara dengannya.
David J Linden, neuroscientis dari Johns Hopkins University medical school menuturkan pecandu olahraga juga bisa merasakan ngidam dan gejala penarikan. Para ahli menuturkan hormon endorfin akan keluar ketika sedang latihan, dan hal ini mirip dengan yang terjadi pada pecandu narkoba dan juga alkohol.
Namun kecanduan olahraga yang dialami seseorang diklasifikasikan sebagai gangguan proses, sama seperti halnya kecanduan seks atau judi. Ketika suatu tindakan atau pikiran menentukan perilaku berulang untuk memuaskan hasrat tersebut, maka itu tanda adanya masalah.

"Orang yang bermasalah dengan kecanduan olahraga bisa sampai titik yang mana rasa sakit psikologis melebihi manfaat yang didapat sehingga membahayakan tubuh. Pecandu ini bisa mengalami nyeri sendi, serangan jantung dan stroke," ujar Andrew Spanswick dari KLEAN Treatment Center.
Spanswick menuturkan di tempatnya, pecandu biasanya datang untuk dinilai kemudian diberikan terapi yang meliputi terapi perilaku kognitif, serta memodifikasi perilaku yang ada.
Untuk kasus Misti kemungkinan memang ada masalah pada citra tubuh yang mana ia membandingkan dirinya dengan postur tubuh orangtua terutama ibunya yang kecil dan terlihat seksi.
Namun kini berkat terapi yang dilakukan, Misti sudah bisa memfokuskan perhatiannya dan merasa lebih sehat karena mampu terlepas dari kecanduannya terhadap olahraga. Ia mengakui bahwa hal ini tidaklah mudah dan perlu waktu untuk mencapai kesembuhannya.
"Sekarang saya bisa mengatakan tidak berolahraga untuk hari ini, tapi saya akan melakukannya besok," ujar Misti sambil tersenyum.
[sumber: detikcom]